Jumat, 16 September 2011

ASSESMEN DAN RENCANA INTERVENSI KLIEN SCHIZOPHRENIA DAN PSIKOTIK

    ASSESMEN DAN RENCANA INTERVENSI KLIEN SCHIZOPHRENIA DAN  PSIKOTIK
•       Assesmen adalah proses dan suatu produk/hasil pemahaman, dimana tindakan pertolongan di berikan kepada orang yang membutuhkan (dalam hal ini adalah klien Eks Psikotik).
•       Assesmen merupakan proses berpikir yang menjadi alasan bagi seorang pekerja sosial dalam melaksanakan kegiatan pengumpulan data sampai dengan kesimpulan sementara. Selama assesmen, informasi yang tersedia di susun dan di pelajari untuk membuat alur dari situasi klien yang menjadi dasar untuk rencana intervensi. Setelah assesmen lengkap, pekerja sosial harus dapat menggambarkan masalah secara akurat dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang akan di rubah untuk memperbaiki situasi klien.
•     Assesmen merupakan proses yang berkesinambungan. Proses ini akan selalu berlanjut sepanjang pelaksanaan pemberian pelayanan kepada klien. Rencana intervensi diambil berdasarkan pemahaman dan kesepakatan bersama antara pekerja sosial dan klien, dimana akan memerlukan perbaikan. Rencana intervensi mungkin akan berubah, dengan adanya data baru yang muncul, sehingga perlu diputuskan tujuan yang baru(modifikasi tujuan sebelumnya).
•     Konsep tentang assesmen dalam pekerjaan sosial merupakan upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan (gaining knowledge and making judgement), termasuk pengujian hipotesa dan fakta empiris melalui penemuan, pengalaman dan transaksi dengan klien.

TUJUAN ASSESMENT
•  Untuk mengkaji dan memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah, potensi, kebutuhan dan sumber-sumber di sekitar klien
• Identifikasi dan menemukan beberapa penjelasan mengenai isu dan masalah klien
METODE UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI
1. Metode untuk memperoleh informasi
Wawancara (Interview)
Angket (Questioner)
Observasi alamiah (Naturalistic Observation)
Ujian proyeksi (Projective test)
2.  Metode untuk mengorganisasi informasi
Skala Rating Observer (Observer Rating Scales)
Sistem Kode Perilaku (Behavior Coding System)
Metode Diagramatik (Diagrammatic Method)


METODE ASESMEN YANG DILAKUKAN
• Pengumpulan data dari klien, orang-orang yang relevan dengan masalah yang dialami klien (significant other) atau sumber.
• Assessment status mental klien dan tingkat keberfungsian klien termasuk ego dan pengaruh/kekuatan lingkungan.
• Merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual Mental Disorder (DSM IV)
• Kerangka teori akan membantu memahami data yang terkumpul
• Ada tujuan pelayanan atau (tindakan)
• Metode untuk mengevaluasi seberapa efektif tindakan praktik yang dibuat

ASSESMEN PSIKOSOSIAL
1. Identifying information (mengidentifikasi informasi).
2. Referral source (sumber rujukan).
3. Presenting problem (mengenal/memunculkan masalah).
4. History of the problem (menceritakan latar belakang masalah)
5. Previous counseling experience (Pengalaman konseling)
6. Family background (Latar belakang keluarga)
7. Personal history (Latar belakang personal)
8. Medical history (Latar belakang kesehatan)
9. Cultural history (Latar belakang budaya)
10. Spirituality or religion (Keyakinan atau agama)
11.Mental status and current functioning (status mental dan keberfungsian)
12.The mental status exam (uji kesehatan mental)
13.Establishing the diagnosis and according to DSM IV
  ( mendiagnosa dan merujuk ke DSM IV)
11.The multiaxial diagnosis
12.Summary (Catatan ringkas)
13.Recommendation and goals for treatment (rekomendasi dan tujuan tindakan)
14.Plans to evaluate (rencana evaluasi)

BAGAIMANA CARA MEMULAI WAWANCARA
Berikut beberapa petunjuk bagaimana membuat klien merasa nyaman dalam mengungkapkan perasaan dan gejala-gejala mereka :
Perkenalkan diri pada klien, beberapa klien mungkin bingung atau curiga. Tunjukkan peran profesional secara jelas dan katakan bahwa anda ingin bertanya tentang kondisi kesehatan akhir-2 ini.
Jalin hubungan saling percaya, wawancara dapat di mulai dengan topik-2 umum. Orang akan merasa lebih nyaman membahas masalah pribadi apabila telah mengenal petugas, misal: berbicara dalam bahasa daerah dimana klien berasal .
Berempati, artinya bayangkan bila anda berada pada posisinya. Dengan memahami gejala dan kondisi sosial keluarganya akan membantu anda lebih sensitif dalam menghadapi penyakitnya dan akan membuat klien merasa lebih nyaman berbicara dengan anda.
Pertanyaan-pertanyaan emas harus ditanyakan pada siapapun yang berkonsultasi dengan anda. Respon positif apapun harus diarahkan kepada penilaian yang lebih rinci, gunakan daftar pada subbab 2.5.
Sebaiknya anda mengingat jenis-jenis penyakit kejiwaan dan gejala-gejalanya, hal itu penting terutama karena banyak penderita mungkin tidak mau secara terbuka mengungkapkan keluhan emosional mereka kecuali ada hal-hal yang khusus ditanyakan kepada mereka.
Anda tidak boleh terlihat tertekan selama wawancara, contohnya, dengan terus menerus melihat ke jam tangan! Ingatlah bahwa seringkali anda mempunyai waktu 10 menit untuk memahami masalah klien dan dapat mengarahkan anda ke pilihan-pilihan pengobatan. Tentu saja akan lebih baik jika anda dapat meluangkan waktu lebih lama.
Berikanlah kesempatan kepada klien untuk berbicara tanpa kehadiran keluarganya. Jangan pernah menganggap klien tidak dapat dipercaya hanya karena mereka menderita penyakit kejiwaan.
Cobalah berbicara dengan keluarganya juga. Beberapa orang dengan penyakit kejiwaan akan menyangkal bahwa mereka sedang memiliki masalah. Beberapa mungkin akan menyadari sepenuhnya terhadap bentuk perilaku mereka. Keluarga dan teman-teman sering dapat memberikan informasi berharga dalam membuat keputusan klinis.
Pandanglah klien selama wawancara. Kontak mata dapat membantu klien percaya bahwa seorang petugas tertarik mendengarkan apa yang dia bicarakan.
•    Cobalah untuk melakukan wawancara secara pribadi: hal ini tidak mungkin dilakukan pada situasi yang ramai, tetapi bahkan di tempat seperti ini anda dapat berbicara dengan pelan agar diskusi mengenai masalah pribadi ini tidak didengarkan orang lain di ruangan tersebut. Pilihan lain, mintalah klien untuk menunggu hingga situasi tidak begitu ramai dan kemudian berbicaralah secara pribadi.
•    Catatlah informasi-informasi kunci untuk referensi selanjutnya, terutama gejala-gejala utama, diagnosa saat ini dan informasi penting, seperti adanya masalah dalam rumah tangga.

RENCANA INTERVENSI DAN INTERVENSI
(Pendampingan orang dengan masalah kejiwaan dalam Panti)
• TUJUAN INTERVENSI
• Membantu klien  mengorgansasikan  kembali pola perilakunya  (helping offenders recognize behaviour patterns)
• Membantu klien memperkuat motivasinya (helping strengthen motivation)
• Memberikan kesempatan pada klien untuk menyalurkan  perasaannya (allowing for ventilation of feeling)
• Membantu klien untuk merumuskan situasinya (define the situation)
• Membantu klien dalam hal memodifikasi / merubah lingkungan keluarga  dan lingkungan terdekat (modification of the environment)
• Membantu klien untuk membuat keputusan (help offenders to make decisions)
• Memfasilitasi upaya rujukan  (facilitating referal)

IDENTIFIKASI MASALAH PENYANDANG MASALAH EKS PSIKOTIK
• Kesulitan menyesuaikan diri ( sulit bergaul, menarik diri, dsb)
• ADL
• Ketrampilan Sosialgangguan dalam memberikan stimulus dan respon, tidak fokus, konsentrasi, dll)
• Stigmatisasi
• Kepercayaan diri

TINJAUAN MASALAH
• Perilaku ; berkaitan dengan perilaku, sikap yang ditampilkan oleh klien
• Kognitif ; berkenaan dengan pola fikir, persepsi  klien
• Emotif : perasaan  (apa yang dirasakan oleh klien
• Lingkungan : bagaimana respon  dan stimulus yang diberikan oleh lingkungan

METODA  INTERVENSI
• Individual dan keluarga ; pemecahan masalah melalui metoda individu dan atau keluarga (terapi individu dan terapi keluarga)
• Kelompok; pemecahan masalah melalui media kelompok ( terapi kelompok)
• Masyarakat; pemecahan masalah melalui lingkungan masyarakat

SASARAN INTERVENSI
(dalam persfektif perilaku)
• Target behaviour  :  merupakan sasaran perilaku yang harus dirubah, harus spesifik
• Penggunaan penguat ; internal, ekternal, sosial, material
• Skedul penguatan ; shapping, fading, prompting / coaching,  physical guidance
• Tujuan perubahan : pembiasaan (conditioning), memantapkan perilaku
• Waktu ; tidak menjadi ketergantungan, konsisten,fair

SKEDUL PENGUATAN
Menurut Mikulas
1.  Shaping
  Digunakan untuk   pengembangan tingkah laku.
  contohnya : mengajari  cara  berbicara yang baik    =>gerak bibir, kontak mata , cara memberi respon, bahasa tubuh  secara konsisten .

2.  Fading
  memperkuat  tingkah laku "baru" yang telah dimiliki diperkuat dalam suatu situasi buatan =>   menghadapi situasi alamiah  Diusahakan dibentuk kepercayaan diri untuk berani menerapkan tingkah laku dalam lingkungan alamiah (simulasi, role playing).
3. Modeling
Tahapannya ; atensional, retensi ,reproduksi motorik, penguatan/ motivasi
4. Prompting (Coaching)
Pemberian pengarahan-pengarahan kepada klien gambaran situasi yang akan dihadapi klien dalam lingkungan alamiah.
5.   Physical Guidance
Dalam rangka penguatan pada   tingkah laku baru yang sudah dicapaiDiperkuat dengan melatih keterampilan baru sebagai penunjang tingkah laku baru tersebut.


•        FAMILY BASE SERVICE 
(PELAYANAN BERBASIS KELUARGA)
MERUPAKAN PERLINDUNGAN SOSIAL BAGI  ORANG DENGAN KECACATAN MENTAL EKS PSIKOTIK


DASAR PEMIKIRAN:
Undang-Undang  Nomor : 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan Pasal 63 pada Peraturan Pemerintah Nomor : 43 tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Penyandang Cacat yang berbunyi “ Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat ”. ini berarti bahwa upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi penyandang cacat tidak saja dilakukan oleh pemerintah saja, tapi bersama dengan masyarakat.



Orang Dengan Masalah Kejiwaan
Psikosis adalah salah satu masalah kejiwaan yang berat yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam menilai kenyataan/realitas atau dalam membedakan antara fantasi dan realitas. Gejala-gejala yang muncul adalah waham, halusinasi, hendaya ketidakmampuan berat dalam perawatan diri, dalam fungsi sosial (misalnya: menarik diri dari pergaulan sosial) serta dalam pekerjaan sehari-hari/yang biasa dilakukan.
Dalam dunia medis, gangguan psikosis pada umumnya dan paling banyak penderitanya adalah skizofrenia. Kebanyakan orang yang disebut sebagaiorang gilasebetulnya adalah penderita skizofrenia.

Gejala-gejala yang muncul antara lain:
• Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan : misalnya, mendengar  suara yang tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak ada wujudnya/bendanya)
• Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh kelompok sosial klien, misalnya klien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari seseorang, atau merasa diamati/diawasi oleh orang lain)
• Agitasi atau perilaku aneh (bizar)
• Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi)
• Keadaan emosional yang labil dan ekstrim (iritabel)

Gambaran perilaku:
ØPenarikan diri secara sosial
ØMinat atau motivasi rendah, pengabaian diri
ØGangguan berpikir (tampak dari pembicaraan yang tidak nyambung atau aneh)
ØPerilaku aneh seperti apatis, menarik diri, tidak memperhatikan kebersihan yang dilaporkan keluarga

Perilaku lain yang dapat menyertai adalah :
Kesulitan berpikir dan berkonsentrasi
Melaporkan bahwa individu mendengar suara-suara
Keyakinan yang aneh dan tidak masuk akal seperti : memiliki kekuatan supranatural, merasa dikejar-kejar, merasa menjadi orang hebat/terkenal
Keluhan fisik yang tidak biasa/aneh seperti : merasa ada hewan atau objek yang tak lazim di dalam tubuhnya
Bermasalah dalam melaksanakan pekerjaan atau pelajaran

PENGERTIAN ORANG DENGAN KECACATAN MENTAL  EKS PSIKOTIK
Orang dengan kecacatan mental eks psikotik adalah seseorang yang mempunyai kelainan mental atau tingkah laku karena pernah mengalami sakit jiwa yang oleh karenanya merupakan rintangan atau hambatan baginya untuk melakukan pencarian nafkah atau kegiatan kemasyarakatan dengan faktor penyebab utama adalah adanya kerusakan/tidak berfungsinya salah satu atau lebih Sistim Syaraf  Pusat (SSP) yang terjadi sejak lahir, penyakit, kecelakaan dan juga karena keturunan

SEBAB-SEBAB CACAT MENTAL EKS PSIKOTIK
1.  Tekanan–tekanan kehidupan emosional dan konflik batin.
2.  Kekecewaan (frustasi) yang tidak pernah mendapat penyelesaian.
3. Hambatan-hambatan yang terjadi pada masa perkembangan.
4. Kecelakaan yang menimbulkan kerusakan pada jaringan otak.
5. Sosial budaya, yaitu yang menyangkut ketidak mampuan menyesuaikan diri dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan hidup.

CIRI-CIRI SEBAGAI BERIKUT :
Mengalami hambatan fisik mobilitas dalam kegiatan sehari-hari.
Memiliki hambatan dan gangguan dalam keterampilan kerja produktif.
Memiliki hambatan/kecanggungan mental psikologis yang menimbulkan rasa rendah diri, lemah kemauan dan kerja serta rasa tanggung jawab terhadap masa depan sendiri.
Memiliki hambatan dalam melaksanakan fungsi sosial secara wajar.

JENIS - JENIS ORANG DENGAN KECACATAN MENTAL EKS PSIKOTIK
1Psikotik Organik
a.  Yaitu jenis psikotik yang faktor penyebabnya ialah adanya gangguan pada pusat susunan urat syaraf.
b. Psikotik yang disebabkan oleh kondisi fisik termasuk gangguan endoktrin, gangguan metabolisme, keadaan psikotik karena adanya infeksi tubuh, intoksikasi obat, setelah pembedahan dan lain-lain.
Gangguan tersebut meliputi  :
Gangguan orientasi
Gangguan daya ingatan
Gangguan fungsi berpikir.
 
LANJUTAN JENIS - JENIS ....................
2.    Psikotik Fungsional ( Psikogenik )
Psikotik yang tidak disebabkan oleh kerusakan organik tetapi gangguan terutama terdapat aspek-aspek kepribadian atau fungsi dari kepribadian, serta yang bersifat psikogenik ini termasuk :
-    Skizoprenia ( perpecahan kepribadian )
-    Psikotik paranoid ( Selalu curiga pada orang lain )
-    Psikotik afektif.
-    Psikotik reaktif.

GRADASI KECACATAN :
Untuk mengetahui gradasi kecacatan bagi Orang Dengan Kecacatan mental eks psikotik perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut  :
Jenis penyakit jiwa yang diderita.
 Lamanya menderita.
 Frekwensi timbulnya kekambuhan
 Berat ringannya masalah sosial yang dihadapi.


PENGERTIAN KELUARGA :
Keluarga adalah sejumlah orang yang bertempat tinggal dalam satu atap rumah dan diikat oleh tali pernikahan yang satu dengan lainnya memiliki saling ketergantungan.

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh yang sangat besar bagi tumbuh kembangnya angota keluarga. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan angota keluarga akan optimal apabila mereka bersama keluarganya.

FUNGSI KELUARGA :
Secara umum keluarga memiliki fungsi (a) Reproduksi,
  (b) Sosialisasi, (c) Edukasi, (d) Rekreasi, (e) Afeksi, dan
  (f) Proteksi. Sehingga pengaruh keluarga sangat besar terhadap pembentukan pola kepribadian anggota keluarga.
Keberfungsian sosial keluarga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan, serta adaptasi antara keluarga dengan anggotanya, dengan lingkungannya, dan dengan tetangganya, dan lain-lain.
Kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga yang ideal salah satunya jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasi terhadap anggota keluarganya.


PERMASALAHAN ODK
Orang dengan Kecacatan Mental(ODKM) yaitu kondisi kemiskinan yang dialami keluarga ODK sehingga ketika perawatan di panti telah selesai tidak ada tindak lanjut keluarga untuk melanjutkan perawatan tersebut.

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan Orang dengan Kecacatan Mental(ODKM).

Tujuan dari Pertemuan orang tua klien
Bagaimana keluarga mempunyai kemampuan untuk melakukan perawatan lanjutan baik secara materil maupun non materil.
Diharapkan keluarga mampu memberi pelayanan kepada Orang Dengan Kecacatan(ODK) sehingga tidak terjadi perlakuan yang tidak wajar.
SASARAN :
Eks Psikotik yang sudah dinyatakan stabil dan siap dikembalikan kepada keluarga. Dengan ciri-ciri diantaranya sebagai berikut :
  - Sudah mampu berkomunikasi dua arah secara baik.
  -Sudah bisa menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
  -Tidak  sering menyendiri.
  -Sudah bisa mengurus dirinya sendiri.


Resiko yg ditanggung oleh keluarga
1. SIKLUS KEHIDUPAN
Berubahnya rutinitas kehidupan anggota keluarga dengan kembalinya ODK ke lingkungan rumah mereka.
Ada aktifitas baru yang harus dilakukan yaitu pengawasan.
Meskipun secara medis kondisi ODK sudah stabil namun lingkungan yang dianggap baru, membuat ODK dengan eks psikotik  mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupannya terutama setelah ia dinyatakan menderita cacat mental.
Orang dengan cacat mental yang diderita sejak kecil akan dapat dipastikan tidak bisa berfungsi sosial dan tidak bisa menjalankan peran-peran kehidupannya di setiap tahapan usia. Sedangkan penderita cacat mental yang dialami ketika usia remaja, dewasa atau usia tua, mereka juga seketika itu terhambat dalam menjalankan peran-peran sosial setelah dinyatakan menderita cacat mental.

LANJUTAN RESIKO ................
2.Ekonomi
Secara ekonomi, orang dengan cacat mental mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga menjadi beban bagi keluarganya.
Selain alasan stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan cacat mental yang masih tinggi, juga ada alasan kemampuan atau kapasitas yang sangat terbatas dari penyandang cacat mental, sehingga mereka praktis mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan, dan akibatnya mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

LANJUTAN RESIKO .............
3. Lingkungan dan sosial
Dalam konteks lingkungan, penyandang cacat mental kurang mampu beradaptasi dan merespon situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya. Meskipun sudah dinyatakan baik, penyandang cacat mental mengalami penurunan kemampuan dalam berpikir, bersikap dan berperilaku sehingga mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya.
Stigma negatif masyarakat yang tinggi terhadap orang dengan cacat mental, menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial baik dengan keluarga, apalagi dengan lingkungan sekitarnya. Orang dengan cacat mental juga seringkali mengalami diskriminasi dalam mendapatkan pelayanan sosial yang tersedia di masyarakat

MEKANISME PERLINDUNGAN SOSIAL

  Mekanisme perlindungan sosial yang diperuntukkan bagi ODK Mental eks psikotik melalui pendekatan informal (Family base care) yaitu dengan mengembangkan :
1.Dukungan keluarga besar dalam menciptakan situasi dan kondisi keluarga/lingkungan yang kondusif sehingga penyandang cacat mental mampu mengelola kehidupannya dengan baik sehingga tidak mengalami kekambuhan (relaps).
2.Pastikan penderita gangguan jiwa  mempunyai akses terhadap layanan pengobatan terutama obat-obatan anti psikotik.
3.Seperti disebutkan sebelumnya, pikiran dan perilaku yang acap disebutgila/tidak waras”  (seperti halusinasi dan delusi) adalah gejala yang muncul akibat tidak seimbangnya kadar neurotransmitter di otak. Untuk itulah obat antipsikotik dibutuhkan untuk menyeimbangkannya.
4.Tanpa bantuan obat-obatan, gejala-gejala diatas umumnya tidak akan hilang dan ODK tetap dalam kondisi “tidak waras”.




 AKSES PENGOBATAN
Pastikan bahwa ODK eks Psikotik tidak putus obat walaupun gejala penyakitnya sudah terkontrol
 
Keberlangsungan pengobatan adalah mutlak. Apabila pengobatan dihentikan maka besar kemungkinan penderita akan kambuh gejala psikotiknya. Oleh karena itu sangat penting diperhatikan dan juga agar penderita tidak sampai putus obat.

ASET/KEKAYAAN YANG DIMILIKI
Penggunaan aset yang dimiliki. Dalam konteks ini keluarga bisa mewakili orang dengan cacat mental untuk mengelola aset yang dimiliki.
Secara hukum ini juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, yang mengatur tentang “perwalian”. Dalam perwalian ini, majelis hakim menetapkan seseorang, bisa dari pihak keluarga, pihak pekerja sosial maupun siapapun untuk ditunjuk sebagai wali bagi penyandang  cacat mental.
Wali ini mempunyai hak untuk mengatur dan mengelola aset penyandang cacat mental sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diputuskan oleh majelis hakim.

SIKAP YANG DIHARAPKAN
Bicara dengan sopan dan tidak merendahkan.
ODK adalah manusia dengan segala hak asasi yang melekat pada dirinya, termasuk yang terpenting adalah harkat dan martabatnya sebagai manusia. Berbicara secara merendahkan apalagi kasar dan menghina melanggar hak-hak azasi ODK.
Hindarkan kata-kata yang meyakitkan hati, menghina atau menstigma, misalnya kata-kataorang gila”, “sinting”, “tidak waras”. Ingatlah kondisi sepertiorang gilaitu hanyalah gejala penyakit yang seharusnya bisa dipulihkan dengan jenis dan dosis obat yang tepat.
Bila ODK eks Psikotik masih berperilaku seperti itu artinya kita belum maksimal memberikan layanan pengobatan yang tepat bagi mereka. Adalah kewajiban pemberi layanan untuk mengupayakan sebaik-baiknya agar gejala-gejala itu berkurang.



KELEBIHAN MEKANISME PERLINDUNGAN SOSIAL
1. Kelebihan Berbasis Keluarga
Lebih efisien
Biaya relatif lebih murah
Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
Memudahkan pengawasan
Menjamin keberlanjutan
2. Berbasis  masyarakat (LSM atau lembaga-lembaga amal)
Komunitas
Cepat dan fleksibel dalam implementasinya
Melibatkan partisipasi luas




Dengan pengobatan dan dukungan sosial yang baik penderita psikotik bisa pulih dan kembali beraktivitas di masyarakat
Dampingi ODK dalam perjalanan menuju pemulihan. Berikan harapan dan yakinkan bahwa mereka masih punya hari depan