ASSESMEN DAN RENCANA INTERVENSI KLIEN SCHIZOPHRENIA DAN PSIKOTIK
• Assesmen adalah proses dan suatu produk/hasil pemahaman, dimana tindakan pertolongan di berikan kepada orang yang membutuhkan (dalam hal ini adalah klien Eks Psikotik).
• Assesmen merupakan proses berpikir yang menjadi alasan bagi seorang pekerja sosial dalam melaksanakan kegiatan pengumpulan data sampai dengan kesimpulan sementara. Selama assesmen, informasi yang tersedia di susun dan di pelajari untuk membuat alur dari situasi klien yang menjadi dasar untuk rencana intervensi. Setelah assesmen lengkap, pekerja sosial harus dapat menggambarkan masalah secara akurat dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang akan di rubah untuk memperbaiki situasi klien.
• Assesmen merupakan proses yang berkesinambungan. Proses ini akan selalu berlanjut sepanjang pelaksanaan pemberian pelayanan kepada klien. Rencana intervensi diambil berdasarkan pemahaman dan kesepakatan bersama antara pekerja sosial dan klien, dimana akan memerlukan perbaikan. Rencana intervensi mungkin akan berubah, dengan adanya data baru yang muncul, sehingga perlu diputuskan tujuan yang baru(modifikasi tujuan sebelumnya).
• Konsep tentang assesmen dalam pekerjaan sosial merupakan upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan pengambilan keputusan (gaining knowledge and making judgement), termasuk pengujian hipotesa dan fakta empiris melalui penemuan, pengalaman dan transaksi dengan klien.
TUJUAN ASSESMENT
• Untuk mengkaji dan memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah, potensi, kebutuhan dan sumber-sumber di sekitar klien
• Identifikasi dan menemukan beberapa penjelasan mengenai isu dan masalah klien
METODE UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI
1. Metode untuk memperoleh informasi
•Wawancara (Interview)
•Angket (Questioner)
•Observasi alamiah (Naturalistic Observation)
•Ujian proyeksi (Projective test)
2. Metode untuk mengorganisasi informasi
•Skala Rating Observer (Observer Rating Scales)
•Sistem Kode Perilaku (Behavior Coding System)
•Metode Diagramatik (Diagrammatic Method)
METODE ASESMEN YANG DILAKUKAN
• Pengumpulan data dari klien, orang-orang yang relevan dengan masalah yang dialami klien (significant other) atau sumber.
• Assessment status mental klien dan tingkat keberfungsian klien termasuk ego dan pengaruh/kekuatan lingkungan.
• Merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual Mental Disorder (DSM IV)
• Kerangka teori akan membantu memahami data yang terkumpul
• Ada tujuan pelayanan atau (tindakan)
• Metode untuk mengevaluasi seberapa efektif tindakan praktik yang dibuat
ASSESMEN PSIKOSOSIAL
1. Identifying information (mengidentifikasi informasi).
2. Referral source (sumber rujukan).
3. Presenting problem (mengenal/memunculkan masalah).
4. History of the problem (menceritakan latar belakang masalah)
5. Previous counseling experience (Pengalaman konseling)
6. Family background (Latar belakang keluarga)
7. Personal history (Latar belakang personal)
8. Medical history (Latar belakang kesehatan)
9. Cultural history (Latar belakang budaya)
10. Spirituality or religion (Keyakinan atau agama)
11.Mental status and current functioning (status mental dan keberfungsian)
12.The mental status exam (uji kesehatan mental)
13.Establishing the diagnosis and according to DSM IV
( mendiagnosa dan merujuk ke DSM IV)
11.The multiaxial diagnosis
12.Summary (Catatan ringkas)
13.Recommendation and goals for treatment (rekomendasi dan tujuan tindakan)
14.Plans to evaluate (rencana evaluasi)
BAGAIMANA CARA MEMULAI WAWANCARA
Berikut beberapa petunjuk bagaimana membuat klien merasa nyaman dalam mengungkapkan perasaan dan gejala-gejala mereka :
v Perkenalkan diri pada klien, beberapa klien mungkin bingung atau curiga. Tunjukkan peran profesional secara jelas dan katakan bahwa anda ingin bertanya tentang kondisi kesehatan akhir-2 ini.
v Jalin hubungan saling percaya, wawancara dapat di mulai dengan topik-2 umum. Orang akan merasa lebih nyaman membahas masalah pribadi apabila telah mengenal petugas, misal: berbicara dalam bahasa daerah dimana klien berasal .
v Berempati, artinya bayangkan bila anda berada pada posisinya. Dengan memahami gejala dan kondisi sosial keluarganya akan membantu anda lebih sensitif dalam menghadapi penyakitnya dan akan membuat klien merasa lebih nyaman berbicara dengan anda.
v Pertanyaan-pertanyaan emas harus ditanyakan pada siapapun yang berkonsultasi dengan anda. Respon positif apapun harus diarahkan kepada penilaian yang lebih rinci, gunakan daftar pada subbab 2.5.
v Sebaiknya anda mengingat jenis-jenis penyakit kejiwaan dan gejala-gejalanya, hal itu penting terutama karena banyak penderita mungkin tidak mau secara terbuka mengungkapkan keluhan emosional mereka kecuali ada hal-hal yang khusus ditanyakan kepada mereka.
v Anda tidak boleh terlihat tertekan selama wawancara, contohnya, dengan terus menerus melihat ke jam tangan! Ingatlah bahwa seringkali anda mempunyai waktu 10 menit untuk memahami masalah klien dan dapat mengarahkan anda ke pilihan-pilihan pengobatan. Tentu saja akan lebih baik jika anda dapat meluangkan waktu lebih lama.
v Berikanlah kesempatan kepada klien untuk berbicara tanpa kehadiran keluarganya. Jangan pernah menganggap klien tidak dapat dipercaya hanya karena mereka menderita penyakit kejiwaan.
v Cobalah berbicara dengan keluarganya juga. Beberapa orang dengan penyakit kejiwaan akan menyangkal bahwa mereka sedang memiliki masalah. Beberapa mungkin akan menyadari sepenuhnya terhadap bentuk perilaku mereka. Keluarga dan teman-teman sering dapat memberikan informasi berharga dalam membuat keputusan klinis.
v Pandanglah klien selama wawancara. Kontak mata dapat membantu klien percaya bahwa seorang petugas tertarik mendengarkan apa yang dia bicarakan.
• Cobalah untuk melakukan wawancara secara pribadi: hal ini tidak mungkin dilakukan pada situasi yang ramai, tetapi bahkan di tempat seperti ini anda dapat berbicara dengan pelan agar diskusi mengenai masalah pribadi ini tidak didengarkan orang lain di ruangan tersebut. Pilihan lain, mintalah klien untuk menunggu hingga situasi tidak begitu ramai dan kemudian berbicaralah secara pribadi.
• Catatlah informasi-informasi kunci untuk referensi selanjutnya, terutama gejala-gejala utama, diagnosa saat ini dan informasi penting, seperti adanya masalah dalam rumah tangga.
RENCANA INTERVENSI DAN INTERVENSI
(Pendampingan orang dengan masalah kejiwaan dalam Panti)
• TUJUAN INTERVENSI
• Membantu klien mengorgansasikan kembali pola perilakunya (helping offenders recognize behaviour patterns)
• Membantu klien memperkuat motivasinya (helping strengthen motivation)
• Memberikan kesempatan pada klien untuk menyalurkan perasaannya (allowing for ventilation of feeling)
• Membantu klien untuk merumuskan situasinya (define the situation)
• Membantu klien dalam hal memodifikasi / merubah lingkungan keluarga dan lingkungan terdekat (modification of the environment)
• Membantu klien untuk membuat keputusan (help offenders to make decisions)
• Memfasilitasi upaya rujukan (facilitating referal)
IDENTIFIKASI MASALAH PENYANDANG MASALAH EKS PSIKOTIK
• Kesulitan menyesuaikan diri ( sulit bergaul, menarik diri, dsb)
• ADL
• Ketrampilan Sosial ( gangguan dalam memberikan stimulus dan respon, tidak fokus, konsentrasi, dll)
• Stigmatisasi
• Kepercayaan diri
TINJAUAN MASALAH
• Perilaku ; berkaitan dengan perilaku, sikap yang ditampilkan oleh klien
• Kognitif ; berkenaan dengan pola fikir, persepsi klien
• Emotif : perasaan (apa yang dirasakan oleh klien )
• Lingkungan : bagaimana respon dan stimulus yang diberikan oleh lingkungan
METODA INTERVENSI
• Individual dan keluarga ; pemecahan masalah melalui metoda individu dan atau keluarga (terapi individu dan terapi keluarga)
• Kelompok; pemecahan masalah melalui media kelompok ( terapi kelompok)
• Masyarakat; pemecahan masalah melalui lingkungan masyarakat
SASARAN INTERVENSI
(dalam persfektif perilaku)
• Target behaviour : merupakan sasaran perilaku yang harus dirubah, harus spesifik
• Penggunaan penguat ; internal, ekternal, sosial, material
• Skedul penguatan ; shapping, fading, prompting / coaching, physical guidance
• Tujuan perubahan : pembiasaan (conditioning), memantapkan perilaku
• Waktu ; tidak menjadi ketergantungan, konsisten,fair
SKEDUL PENGUATAN
Menurut Mikulas
1. Shaping
• Digunakan untuk pengembangan tingkah laku.
• contohnya : mengajari cara berbicara yang baik =>gerak bibir, kontak mata , cara memberi respon, bahasa tubuh secara konsisten .
2. Fading
• memperkuat tingkah laku "baru" yang telah dimiliki diperkuat dalam suatu situasi buatan => menghadapi situasi alamiah Diusahakan dibentuk kepercayaan diri untuk berani menerapkan tingkah laku dalam lingkungan alamiah (simulasi, role playing).
3. Modeling
•Tahapannya ; atensional, retensi ,reproduksi motorik, penguatan/ motivasi
4. Prompting (Coaching)
•Pemberian pengarahan-pengarahan kepada klien gambaran situasi yang akan dihadapi klien dalam lingkungan alamiah.
5. Physical Guidance
•Dalam rangka penguatan pada tingkah laku baru yang sudah dicapai. Diperkuat dengan melatih keterampilan baru sebagai penunjang tingkah laku baru tersebut.